Ketika Memanasnya Konflik Intelijen AS dengan Trump -->
Cari Berita

Advertisement

Ketika Memanasnya Konflik Intelijen AS dengan Trump

SoboLangit.com
Minggu, 19 Agustus 2018

Langkah di luar dugaan Presiden Amerika Serikat memutus akses keamanan mantan direktur badan intelijen pusat negara itu, CIA, telah memicu kemarahan komunitas intelijen Amerika.
Presiden Amerika, Donald Trump kembali mengeluarkan keputusan kontroversial, kali ini sasarannya adalah mantan direktur CIA, John O. Brennan dan beberapa mantan pejabat tinggi CIA serta sejumlah besar mantan pejabat badan intelijen Amerika lainnya.


Pemutusan akses keamanan John Brennan ini disinyalir untuk menakut-nakuti oposisi dan memberangus kebebasan di Amerika. Dalam pernyataan bersamanya, para mantan pejabat badan intelijen Amerika itu sangat menyesalkan keputusan Trump dan menyebutnya tidak tepat.
Mereka mengatakan, hingga kini kami belum pernah menyaksikan pemberian hak atau pencabutan akses informasi rahasia, berubah menjadi alat politik.

Perdebatan yang terjadi baru-baru ini antara Trump dengan mantan direktur CIA mencapai puncaknya tatkala Brennan menyebut tindak tanduk Trump dalam jumpa pers bersama dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia berbau pengkhianatan.
Dalam konferensi pers bersama di Helsinki itu, Trump dituduh telah melanggar kode etik komunitas intelijen Amerika karena membantah intervensi Rusia dalam pemilu presiden Amerika tahun 2016 lalu. Hal ini berujung dengan kecaman seluruh mantan pejabat tinggi badan-badan intelijen dan keamanan Amerika termasuk mantan direktur Intelijen Nasional, Dan Coats CIA
Akhirnya Presiden Amerika menghukum John Brennan dan memutus akses keamanan mantan direktur CIA itu. Beredar selentingan bahwa Brennan sebelumnya memainkan peran determinan dalam pembentukan kasus "Trump-Rusia" di masa kontestasi pemilu presiden Amerika tahun 2016.
Saat itu, Brennan dan sekelompok mantan pejabat dinas intelijen dan keamanan Amerika menyatakan bahwa Trump tidak memenuhi syarat untuk menduduki kursi kepresidenan negara itu. Mereka bahkan mengaku telah melakukan sejumlah langkah nyata untuk mencegah kemenangan Trump dalam pilpres, namun upaya itu akhirnya gagal karena suara Electoral College.

Sekarang, seiring dengan semakin dekatnya waktu pemilu sela Kongres, ketegangan antara Trump dan komunitas intelijen Amerika semakin panas. Kali ini Trump yang dianggap tidak layak duduk di kursi presiden Amerika, mengeluarkan perintah kontroversial yang melarang akses keamanan mantan direktur CIA.

Langkah Trump ini bahkan ikut membangkitkan ketidakpuasan para pejabat dinas intelijen Amerika dari kubu Republik sendiri, sehingga orang seperti David Petraeus dan Robert Gates menandatangani pernyataan protes bersama.

Mantan pejabat dinas intelijen Amerika dari Partai Republik, Michael Hayden mengatakan, penggunaan sistem keamanan baku untuk menghukum seorang oposan politik, secara sederhana, tidak tepat, bahkan jika kita menerima bahwa presiden Amerika memiliki kuasa dalam hal ini. Hal ini menjadi catatan negatif bagi sehatnya pemerintahan Amerika dan diskursus warga negara ini.

Namun dampak destruktif yang diciptakan Trump terhadap sehatnya pemerintahan Amerika tidak hanya terbatas pada perang antara dirinya dengan komunitas intelijen Amerika, tapi mencakup juga media-media negara itu secara umum.

Publikasi serentak artikel berbau protes atas kebijakan Trump di lebih dari 340 koran dan media Amerika pada hari Kamis (16/8) dan pernyataan beragam mantan pejabat intelijen dan keamanan menyikapi langkah Trump terkait Brennan, menunjukkan dalamnya konflik dalam atmosfir perpolitikan Amerika.