Iklan

SoboLangit.com
Kamis, 23 November 2023, 12.38 WIB
Last Updated 2023-11-23T05:38:12Z
World News

Akhirnya setelah 47 hari Berperang Gencatan Senjata Empat Hari di Gaza


 

Rezim Zionis Israel dan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas akan diberlangsung selama empat hari. Berdasarkan kesepakatan ini, 50 tawanan Israel akan ditukar dengan 150 tawanan Palestina. Selain itu, Israel juga akan mengijinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Gencatan senjata ini diraih melalui mediasi Qatar dan persetujuan Amerika Serikat. Oleh karena itu, alasan pertama dari tercapainya kesepakatan gencatan senjata adalah AS. Amerika sebelumnya tercatat sebagai penentang gencatan senjata, dan menyebut gencatan senjata menguntungkan Hamas.

Faktor lain yang berpengaruh dalam gencatan senjata adalah kegagalan Israel dalam meraih tujuan militernya terhadap Gaza dan Hamas. Kabinet Netanyahu secara khusus gagal menemukan tawanan Zionis yang berada di tangan Hamas dan membebaskannya. Sementara itu, Israel dengan membabi buta membombardir rumah sakit dan sekolah-sekolah di Gaza, termasuk yang berada di bawah pengawasan PBB, karena mengklaim bahwa tawanan Zionis berada di bawah sekolah dan rumah sakit. Seiring dengan gagalnya Israel membebaskan tawanan Zionis, dalam satu pekan lalu terjadi aksi demo besar-besaran di wilayah Palestina pendudukan (Israel), dan warga Zionis menuntut dihentikannya perang dan pembebasan para tawanan.


Faktor lain adalah represi opini publik di tingkat global. Aksi protes dan demo di seluruh dunia mengecam genosida di Gaza oleh Israel meningkat drastis. Selain itu, para demonstran juga mengutuk dukungan Amerika terhadap kejahatan rezim Zionis. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah Amerika yang di dalam negeri mendapat tekanan keras dari opini publik, mulai menekan pemerintah Benjamin Netanyahu untuk menerima gencatan senjata.


Hal yang penting adalah bahwa gencatan senjata yang diumumkan di Gaza berarti kegagalan rezim untuk mencapai tujuan yang dinyatakan di Gaza. Setelah 47 hari melakukan pemboman habis-habisan terhadap rakyat Gaza, rezim tersebut terpaksa tunduk pada persyaratan Hamas tanpa berhasil menghancurkan muqawama dan tanpa mendapatkan satu pun tahanan Zionis. Menghentikan serangan terhadap Gaza dan melepaskan 150 perempuan dan anak-anak Palestina pada tahap ini berarti menerapkan persyaratan Hamas pada rezim tersebut.

Rezim Zionis, yang gagal membebaskan tawanannya dalam 47 hari terakhir, hanya setuju untuk melakukan gencatan senjata dengan imbalan pembebasan 50 tahanan untuk setidaknya mengurangi tekanan opini publik di wilayah pendudukan. Padahal, 200 tahanan Zionis masih berada di tangan Hamas, dan di masa depan Hamas dapat menggunakan tahanan Zionis tersebut sebagai kartu as.

Fakta bahwa menerima gencatan senjata tanpa mencapai tujuan militer yang ditetapkan merupakan kegagalan lain bagi rezim Zionis, bahkan membuat menteri kabinet pun mengakui kegagalan tersebut. Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Internal rezim Zionis, dengan menyatakan ketidakpuasannya terhadap gencatan senjata, mengatakan bahwa kita menyaksikan perpecahan sekali lagi. Pemerintah Israel sekali lagi melakukan kesalahan yang sangat besar. Kesepakatan pertukaran tawanan adalah bencana dan tanda kebodohan kabinet perang.


Sumber : IRNA