Iklan

SoboLangit.com
Rabu, 01 November 2023, 18.54 WIB
Last Updated 2023-11-01T12:05:22Z
Berita UtamaWorld News

Alasan Israel Bombadir Jalur Gaza Terus menerus




Dengan berlanjutnya serangan jet-jet tempur Israel ke berbagai wilayah Jalur Gaza, masjid dan rumah sakit di daerah ini masih tetap menjadi target jet tempur Israel.

Artileri militer Israel juga ikut meramaikan serangan ke Jalur Gaza dan menara masjid di dekat jalan al-Da'wah di Kamp al Nasirat menjadi sasaran dan hancur.

Rezim Zionis tidak puas dengan memperburuk penderitaan pasien kanker di Jalur Gaza dan merampas obat-obatan mereka serta mencegah perjalanan ke luar negeri untuk berobat, namun berupaya untuk membantai pasien-pasien ini melalui serangan berulang-ulang di sekitar rumah sakit dan upaya untuk menghancurkan atau membombardirnya.

Untuk mengusir staf medis dan pengungsi ke Rumah Sakit Al-Aqsa, jet tempur rezim Israel mengebom daerah sekitar rumah sakit ini sebanyak 25 kali dan menurut pengumuman resmi, lebih dari 8.100 orang telah syahid dalam 23 hari pertama perang, kebanyakan dari mereka, menurut UNICEF, adalah anak-anak dan perempuan

Penjajah, yang telah membuktikan bahwa kejahatan mereka tidak ada batasnya dengan pengeboman yang disengaja terhadap Rumah Sakit Al Ahli Al Arabi (Baptist) dan pembantaian perempuan dan anak-anak, telah meningkatkan ancaman mereka untuk menyerang rumah sakit lain, termasuk Rumah Sakit Quds, selama beberapa hari terakhir.


Pengeboman besar-besaran di sekitar rumah sakit al-Shifa, salah satu pusat kesehatan utama di Jalur Gaza, dimulai dengan intensitas yang lebih besar setelah pemboman terhadap tiga rumah sakit di Al-Quds, Turki dan al-Aqsa. Pengeboman ini dilakukan setelah rezim penjajah beberapa kali menginstruksikan rumah sakit tersebut untuk dikosongkan, tapi praktisnya tidak ada peluang untuk mengosongkan rumah sakait ini di saat perang dan tidak adanya sarana pemindahan ribuan orang terluka dan pasien.


Sekjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan keprihatinannya atas peringatan rezim Zionis untuk mengevakuasi Rumah Sakit Quds dan menyatakan bahwa kami menegaskan kembali bahwa tidak mungkin mengevakuasi rumah sakit yang penuh dengan pasien.

Pelayanan kesehatan harus selalu sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. Kelanjutan pemboman terhadap pusat-pusat kesehatan di Gaza terjadi ketika Hamas memperingatkan kemungkinan terulangnya pemboman terhadap rumah sakit di Gaza dan terjadinya tragedi lain.

116 anggota tim medis, 18 anggota tim penyelamat dan 35 jurnalis dan aktivis media telah gugur sejak awal agresi penjajah di Jalur Gaza.

Merujuk pada krisis Gaza, Dana Anak Internasional PBB menekankan bahwa situasi anak-anak di Gaza sangat buruk dan jumlah anak yang terbunuh merupakan sebuah tragedi.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, juru bicara organisasi yang berafiliasi dengan PBB ini menyerukan perlindungan rumah sakit di Gaza dan penciptaan koridor kemanusiaan yang aman bagi warga Jalur Gaza. Dengan diputusnya kebutuhan mendasar seperti air dan listrik, kondisi semakin parah bagi warga Gaza.

Meningkatnya tekanan terhadap pengungsi dan pencari suaka Palestina menjadikan pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah ini semakin diperlukan, namun rezim Zionis menghalangi masyarakat di wilayah ini untuk mengakses bantuan internasional dengan menghalangi dan menunda berbagai hal serta jumlah bantuan yang diterima tidak sesuai dengan kebutuhan warga Palestina yang tinggal di Gaza.

Sepotong roti dan segelas air putih menjadi kontribusi maksimal harian setiap anak Palestina dari bantuan internasional ke Gaza. Dengan ditutupnya jalur masuk BBM ke Jalur Gaza, maka pengoperasian motor listrik rumah sakit juga secara bertahap berakhir, dan sistem layanan kesehatan di Gaza berada di ambang kehancuran total.

Meskipun rezim Zionis membenarkan kejahatannya di Gaza dengan kedok pembalasan atas operasi mengejutkan Badai Al-Aqsa, dokumen yang tersedia menunjukkan bahwa pemerintahan Netanyahu yang berhaluan sayap kanan dan ekstrem sudah memiliki rencana untuk merelokasi penduduk Gaza dan memanfaatkan operasi badai Al-Aqsa sebagai alasan, dan peluang tersebut telah dimanfaatkan.

Terkait hal ini, surat kabar sayap kiri Haaretz mengungkap rencana rahasia berbahaya yang disiapkan oleh Organisasi Intelijen Zionis, yang berisi proposal untuk memindahkan penduduk Gaza ke Sinai satu hari setelah perang.

Menurut rencana ini, untuk mewujudkan proses ini dan mengevakuasi Gaza, Israel akan mendirikan tenda di awal kota Sinai dan kemudian akan didirikan tempat permanen di Sinai Utara.

Berdasarkan hal ini, menjadi jelas mengapa rezim Zionis memasukkan strategi bumi hangus ke dalam agendanya dan dengan sengaja menggunakan bom berbobot multi-ton untuk menghancurkan menara dan bangunan di Jalur Gaza, dan dalam waktu kurang dari tiga minggu, lebih dari satu juta orang dari total 2,3 juta warga Gaza mengungsi.

Sumber : Irib